Tour De’ Gadog 4 Desember 2014

Setelah mencicipi geulisnya Gn Guelis, ane mencoba jalur lain, tetap berawal dr sekitar masjid gadog (dari hotel Soen tepatnya), menuju jalur alternatif tapos ke Taman Safari.

Jalan alternatif menuju Puncak

Kata OB di hotel, jaraknya sekitar 10km menuju Taman Safari. Bagi ane yg biasa baik-tu-wek pepe 36km 2x sepekan, 10km is just a piece of cake. Bukan sombong, congkak dan pongah, tapi lebih sekedar PeDe tanpa KaTe.

Dinginnya hembusan udara gunung Gede Pangrango tak menciutkan nyali dan semangat ane, but something else. Apalagi sehari sebelumnya ane sdh berhasil menikmati gundukan si geulis sepanjang 2km.

Morning breeze to the hill

Kebun tomat dan stroberi dengan latar belakang gunung…

Sepanjang jalan ane bertemu dgn org2 desa yg tampak sederhana dgn aktifitas kedesaannya.

Ada yg manggul pacul ke kebun, ada emak2 yg memajang gorengan di kios kecilnya di atas selokan, dan ada abang2 di depan SD yg sdg nyiapin kue laba2 dan sosis goreng murah dgn saosnya yg merah menyala.

Ane jg melihat mbah-mbah yg berjalan kaki menjajakan gemblong. Seolah2 pintu waktu doraemon membawa ane 27th silam dimana ane jg menjajakan pisang goreng dan jalangkote, makanan khas makassar, demi mendapatkan 500 rupiah utk main nintendo. Favorit ane main mario bross dan battle city, tembak2an mobil tank.

Ane juga sekilas melihat secara live iklan vaseline di depan pintu rumah warga. Tapi yg ini versi desanya, kembenan sarung. Sedikit lebih tertutup dibandingkan yg di tipi atau billboard besar di jakarta.

Dan yg paling tragis, ane melihat korban tabrak lari. Ane hanya bisa mengabadikan gambarnya tanpa daya dan upaya untuk menolongnya. Maaf…

Seekor ular belang menjadi korban tabrak lari… Turut berduka cita.

Eh maaf, jadi lupa kalo ini cerita ttg sepeda. Kembali ke lap…top!

Menyusuri jalan menanjak, turunan, onroad, offroad, sungai berbatu, hingga sampe polsek Megamendung di samping penjual salak maco. Salaknya tatoan kali ya, hehe…

Penjual salak Macho. Baru dengar nama salak ini 🙂

Mengingat, menimbang banyaknya peluh, lutut yg gemetar, betis yg mulai nyut2an dan nafas yg tersengal2, maka ane akhirnya memutuskan dan menetapkan untuk balik pulang tapi melalui jalan lain memutar.

Tak ketinggalan tentunya pepotoan kiri kanan sepanjang jalan yg menyajikan view luar biasa mengagumkan, indah, ibarat lukisan.

Menyusuri pinggiran sungai berharap tembus ke Gadog. Ternyata buntu dan tak terlewati dengan sepeda. Akhirnya TTB dan ternyata tembus ke Villa Alam Boriska

Mang Ujang dan beberapa ibu-ibu yang menjadi tukang kebun dan perawat tanaman villa Alam Boriska

Taman yang sangat indah dan luas. Gimana taman surga yak? Maa syaa Allah…

Masih di Alam Boriska sebelum memutar jalan menuju gubuk penginapan.

Menuruni bukit menuju arah Pasir Muncang, ada view indah, poto-poto dulu…

Minta ijin para petani padi untuk mengambil gambar sekaligus jadi model… 🙂

Padi menghijau dan menguning…

Singgah tuk mejeng di depan villa orang… Ya ialah.. masa villa kambing 🙂

The last turunan di Pasir Muncang…

Robbanaa maa kholaqta haadza baathila, subhaanaka faqinaa adzaabannaar…

Sekian.
Wassalam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *