Liburan MAG & Friends Ke Pulau Tidung (Bagian 1)

Antara Kapal Kayu, Kecoak dan Pendaki Ulung

Negeriku berulang tahun yang ke 70 pada tanggal 17 Agustus 2015. Hampir seluruh masyarakat Indonesia menyambut gembira. Dan yang paling mengharu biru adalah mereka yang menyandang status karyawan, termasuk ane. Bukan karena penghayatan yang mendalam pada momentum proklamasi, tapi karena hari libur yang bertepatan dengan hari Senin. Karena itu berarti more holiday, libur panjaaang. Hiks…, maaf jadi terharu.
Kapal kayu

Liburan kemerdekaan ini betul-betul ane manfaatin sebagai hari keluarga dengan liburan ke tempat yang baru dengan berharap mendapatkan pertualangan yang baru pula. Dan pilihan ane adalah berlibur ke Kepulauan Seribu, tepatnya ke pulau Tidung, bersama rombongan keluarga besar MAG selama dua hari. Tanggal 16 hingga 17 Agustus 2015.

Di hari H, ane dan bini terpaksa membangunkan bocah-bocah pada pukul setengah empat sekaligus memandikan mereka. Bayu ipar ane bersama rombongan juga sudah siap dengan perlengkapannya. Bersama kami meluncur menuju Muara Angke sebelum ayam berkokok karena sesuai tata tertib, kode etik dan AD/ART panitia liburan, kami harus check-in pada pukul setengah enam. Ketua panitianya sendiri, Abu Fahd, beserta rombongan ternyata menginap lebih awal sejak malam tanggal 16 di kapal yang akan memberangkatkan kami. Ini sebagai bentuk tanggung jawab. Thumbs up!

Ane tiba di kapal saat pak Anto sedang mengimami shalat shubuh di dek kapal bagian belakang. Suaranya terdengar lirih berserak merdu penuh khidmat. Di pelabuhan tampak beberapa kapal yang bersandar menunggu penumpang, tapi hanya di kapal yang kami tumpangi saja yang kelihatan orang sedang shalat shubuh berjamaah yang kesemuanya cingkrangers.

kapal3kapal kayu2

Rombongan ane pun segera masuk kapal dan mengambil tempat tepat di tengah geladak kapal di sisi tangga menuju dek atas, dan duduk melingkar di bawah lampu penerangan. Setelah meletakkan semua perlengkapan, ane melihat sekeliling berusaha mengenali dan menebak rombongan open trip MAG. Tidak sulit, karena mereka mudah dikenali dengan ciri-ciri sunnah mereka. Yang ikhwan jenggoter dan cingkrangers, sedang yang akhwat jilbab besar dan ada pula yang bercadar.

Dek1penumpang

Tepat di sisi kanan kami tampak rombongan wisatawan bermata sipit sedangkan di sisi kiri sepertinya rombongan ibu-ibu PKK berbadan tambun. Di depan sana, seberang tangga, berkumpul para pemuda (baca: jombloers) yang menjadi maskot MAG, Ganjar, Rudi, Yudha dan lainnya. Tepat di belakang kami sekumpulan mahasiswa-mahasiswi yang kelihatannya semester awal, masih muda. Di belakang mereka, tepat di batas belakang geladak kapal yang berdinding dan terbuka, berkumpul rombongan MAG lainnya. Pak Anto dan rombongan di bagian tengah, keluarga Abu Fahd di sisi kanan dan keluarga mas Rizki di sisi kiri. Sebelahnya beberapa rombongan lain.

Ane kemudian bergegas ke belakang kapal sambil menyalami satu-persatu ikhwan yang ane lewati, lalu shalat berjamaah bersama rombongan yang tersisa. Selepas itu ane lalu kembali ke tempat semula dan ngobrol ngalor-ngidul bersama keluarga. Tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari arah belakang. Ane lalu menengok ke arah sumber teriakan tadi. Ternyata dari rombongan pak Anto tampak seorang akhwat jingkrak-jingkrak seperti menghindari sesuatu. “Kecoak … kecoak!”

Sang kecoak yang merasa tak bersalah sepertinya ketakutan dan lari tunggang langgang kebingungan ke sana ke mari hingga kemudian lari ke arah ane. Kecoak kecil itu pun ane tangkap dan ane masukkan ke dalam botol akua kosong. Pfiiuh … kirain apaan. Sesuai pesanan, nama akhwat dirahasiakan untuk menjaga nama baik. Jika penasaran, bisa ditanyakan kepada mbak Titiek sebagai saksi hidup. Hehe …. Inilah yang kemudian menjadi titik awal petualang kami sekaligus pertanda keseruan-keseruan berikutnya. Yiihaaa ….

Sekitar pukul setengah tujuh kapal bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Muara Angke menuju laut lepas. Setelah kurang lebih setengah jam berlalu terombang-ambing oleh kehidupan di dalam kapal, pandangan ane menyisir melihat sekeliling kapal. Wajah-wajah penumpang kapal yang sedari awal ceria dan penuh semangat, berubah menjadi redup dengan beragam ekspresi. Sepertinya geal-geol kapal yang oleng ke kiri dan kanan tanpa henti mulai menunjukkan pengaruh.

Dek2

Suasana kapal berubah hening dan khusyuk terbuai oleh ayunan kapal dalam gendongan lautan. Hingga tiba-tiba suara gesekan kantong kresek bermunculan satu persatu. Lalu disusul suara sahut-sahutan yang muncul dari beberapa sudut kapal. “Hueekkk … hueeek ….” Suara yang paling jelas berasal dari dua ibu-ibu, rombongan di sebelah kiri ane. Suara-suara itu berpadu layaknya alunan irama orchestra yang sama sekali tidak menghibur. Persis kayak suara gemericik air yang berpadu dengan suara sahut-sahutan kodok saat hujan rintik. Hehe ….

Penasaran, ane lalu melihat sekeliling untuk memastikan apakah rombongan open trip MAG & Friends ada yang ikut menjadi peserta orchestra itu. Di depan sana Rudi dan kawan-kawan sedang tertidur tenang. Mungkin itu salah satu cara mereka meraih angan-angan dan menikmati mimpi-mimpi yang belum terwujud. Kasihaaan ….

jomblo2

Ane juga menengok ke belakang. Di sebelah kiri, mas Rizki dan keluarga terduduk tenang, tertidur. Di bagian tengah rombongan pak Anto. Pak Anto sendiri sedang asyik bermain henpon sementara rombongannya yang lain ada yang tertidur dan ada pula yang masih asyik mengobrol. Alhamdulillah aman, tidak ada yang muntah.

Tapi saat melihat ke sebelah kanan, ternyata ummu Fahd sedang memegang kantong kresek dengan wajah Fahd kecil di dalamnya. Ternyata dia muntah, kasihan. Sementara itu Abu Fahd sendiri berbaring tertidur di samping Fahd. Tepat di samping Abu Fahd, di sisi luar dek di pagar pembatas kapal, mas Adhany dan juniornya tampak asyik menikmati pemandangan laut lepas sambil berjemur matahari pagi. Mungkin dia ingin kulitnya tampak lebih eksotis seperti Rudi. Hehe ….

Suara muntah kembali terdengar dari arah belakang. Setelah ane tengok, lagi-lagi Fahd kecil muntah. Uminya menyeka mulut Fahd dengan tisu. Ane lalu memandang empat orang bocah kecilku yang masih tampak seger, asyik bermain sambil melahap jajanan yang kami bawa. Alhamdulillah, ane bersyukur mungkin darah pelaut Bugis masih mengalir dalam diri mereka.

Berselang beberapa saat, lagi-lagi terdengar suara orang muntah dari arah belakang. Ane pikir mungkin si Fahd lagi yang muntah, tapi setelah ane tengok, ternyata ia sedang asyik tertidur. Malah Abu Fahd yang sedari tadi berbaring kini tampak terduduk sambil menyeka mulutnya dengan tisu. Awalnya ane sangsi, tapi setelah beradu mata dengan pak Anto dan mas Adhany yang senyum-senyum sambil memberi ane kode kerlingan mata, ane pun yakin. Ingin rasanya ane tertawa lepas sekaligus membulli saat itu, tapi karena khawatir kesejahteraan ane dan rombongan terancam, ane cukup tertawa dalam hati. Secara dia ketua panitia yang mengatur segala sandang, pangan dan papan kami selama liburan. Hahaha ….

Sungguh ane tak menyangka. Biker berbadan tegap, pendaki ulung yang telah menaklukkan banyak puncak gunung, lelaki yang pernah bergumul dengan pembunuh berdarah dingin, lelaki yang pernah mencicipi kerasnya hidup di penjara, ternyata takluk lemas tak berdaya oleh kelembutan buaian ombak laut lepas. Muntah. Ia benar, Abu Fahd mun …, ah sudahlah. Hahaha ….

Sambil memandang bocah-bocah kecilku yang kini terlelap tidur, ane berkata dalam hati, “Kamu lebih hebat, nak ….” 🙂

lelap

(Bersambung ke bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *