Pelayanan SIM ‘Terpadu’

Pelayanan SIM ‘Terpadu’

Teringat saat itu Juli 2013. Petugas pendaftaran pelayanan SIM keliling ada 3 orang ibu-ibu. Kudekati salah satunya yang ternyata sedang hamil.

“Memperpanjang SIM C gimana bu?”

“Kumpulin KTP dan SIM-nya pak.”

Kuserahkan keduanya.

“Ada fotocopy KTP-nya pak?”

“Wah… nggak ada bu.”

Dia langsung memasukkan KTP-ku di mesin fotokopi portable di depannya. Alhamdulillaah pelayanan terpadu nih. Keren. like emoticon

“Fotokopinya 2 ribu pak.”

“Ooo… kirain gratis.” Sambil senyum berharap. He … he ….

Tapi tak apalah daripada harus keliling mencari fotokopi. Kuserahkan selembar 2 ribuan dengan penuh ikhlas. Beneran ikhlas.

“Formulirnya mau dibantu tulisin atau nulis sendiri?”

“Alhamdulillaah … baik banget nih ibu mau bantuin,” batinku.

“Ditulisin aja bu, sekalian.”

Dia menanyakan beberapa pertanyaan sambil tangannya bergerak cepat menulis jawabanku di formulir. Tulisannya seperti cacing kepanasan yang tak terbaca oleh mata awamku.

“Sudah pak. Nanti tinggal tunggu panggilan tuk foto. Ongkos tulisnya terserah berapa aja …” katanya berbisik.

Yaaileeehh … kirain bantuan gratis. Ternyaaataaa ….
Kutarik lembaran ceban di dompet. Tapi ternyata goceng ikut nongol. Karena sudah kadung terlihat, kuserahkan keduanya sambil menarik nafas panjang. kali ini aku berusaha ikhlas. Walau hanya sedikit. Ffiuuh….

Namaku dipanggil. Aku pun masuk bis pelayanan, lalu foto, 2 menit kemudian SIM jadi. Kuserahkan 135 ribu sesuai tarif yang tertulis. No more pungli and no tip batinku.

Keluar dari mobil, ada yg memanggil. Ternyata seorang lelaki duduk disamping 3 ibu-ibu bagian pendaftaran tadi.

“Pak, SIM-nya dilaminating dulu.”

Alhamdulillah. Aku berharap yang terakhir ini gratis dan sudah termasuk biaya 135 ribu tadi. Sebenarnya mau tanya dulu, tapi saat itu ternyata husnudzonku lebih kuat, jadinya SIM langsung kuserahkan.
Laminatingnya hanya berupa selembar plastik bening yang ditempelin di sisi depan SIM.

“Lima ribu pak.” Katanya sambil menyerahkan SIM-ku yang tampak lebih mengkilap.

Astagfirullohal ‘adzim. Lagi-lagi harapanku tak terkabul.

Sebenarnya ini salahku juga karena harapanku akan perubahan negeri ini ternyata lebih cepat daripada janji-janji para penentu kebijakan. Setidaknya ini menyadarkanku bahwa aku masih berada di tanah air. I (still) love you Indonesia ….

Ini bukan soal jumlah duit ‘tambahan’ yang keluar tapi tentang harapan agar pelayanan itu benar-benar terpadu.

*Kenangan lama.

Beesde, 20150813

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *