Tak Ku Lupa Ultahmu

Tak Ku Lupa Ultahmu

Istriku yang jauh di sana…
Bagaimana keadaan di rumah? Sedang masak, mengepel atau berbenah? Jangan lupa nanti ke sekolah, menjemput bocah-bocah. Walau banyak kerjaan dan masalah, tetaplah semangat dan bergairah. Jangan sampai naik darah, bila anak bikin susah. Biar tetap elok bersahaja.

Cintaku nan syahdu…
Hari ini ulang tahunmu. Menurut kalender masehi di mejaku, usiamu kini tiga puluh. Tahukah kamu, di laptopku ada 3 reminder tentang miladmu. Satu reminder sehari yang lalu. Dan dua reminder telah berlalu, dini hari tadi sebelum shubuh. Sepertinya itu settingan dahulu. Waktu anak kita baru satu. Saat kita belum memahami ilmu, bahwa ultah bukanlah sunnah yang harus dipegang teguh. Hanya kebiasaan tempo dulu.

Sayangku yang baik hati…
Tak ada ucapan selamat kuberi. Tak ada pula hadiah menanti. Hanya kecupan di pipi. Seperti hari-hari yang biasa terjadi. Karena kita telah sepakati. Ultah tak perlu basa-basi apalagi seremoni. Karena jika ultah hanya sekedar makan-makan bergizi, berarti ultahku setiap hari dari sajianmu yang penuh nutrisi. Jika ultah sekedar cipika-cipiki, berarti ultahku sepuluh kali sehari, bahkan lebih. Jika ultah sekedar hadiah bergengsi, berarti ultahku akan abadi. Karena empat anak titipan Robbi, adalah hadiah tertinggi.

Kekasihku yang kucintai…
Aku akan berusaha memegang akad suci. Bahwa kita kan bersama hingga nanti. Sampai ajal menjumpai. Ini adalah sebuah janji, yang belum pasti dapat kutepati. Karena ku hanya seorang suami, yang bekerja sebagai kuli. Memanjat tower yang tinggi, demi sesuap nasi. Tapi ku kan berupaya sepenuh hati. Menjadi nahkoda terbaik bahtera ini. Dalam mencari ridho Ilahi. Di dunia dan akhirat nanti.

Uhibbuki fillah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *