Tiga Bidadari Suriah

Dalam acara Reportase Lepas Subuh yang diadakan Divisi Pemuda Masjid Darussalam Kota Wisata dan Petualang Muslim, Cak Ihsanul Faruqi bercerita tentang pengalamannya di Suriah. Salah satu yang masih membekas dan terekam jelas di kepala adalah kisah tiga bidadari kecil di pengungsian Suriah.

MMS8

Saat itu cak Ihsan membagikan biscuit, coklat dan makanan kecil lainnya kepada anak-anak di pengungsian. Makanan kecil yang di mata kita mungkin suatu hal yang tak berharga ternyata bisa menghadirkan senyuman bahagia di wajah-wajah imut mereka yang selama ini dipenuhi kesedihan dan ketakutan karena penindasan rezim syiah.

MMS2

Kemudian ada tiga anak perempuan kecil dengan malu-malu mendekat. Ketiga gadis kecil itu sebenarnya sudah mendapatkan jatah biscuit dan coklat. Apalagi yang mereka inginkan? Cak Ihsan membatin.

“Paman … boleh minta tolong?”
“Ia, apa yang paman bisa bantu?”
“Apakah paman punya mushaf alQuran?”
“Emang kenapa?”
“Kami ingin menghapal alQuran tapi kami tidak punya mushaf.”

Tiga Bidadari Suriah

Permintaan bocah perempuan itu seperti tamparan bagi kami. Hadirin yang memenuhi masjid trenyuh. Sebagian besar terdiam, larut dalam haru. Sebagian lainnya tampak berkaca-kaca.

Betapa tidak. Anak-anak Suriah yang menderita di pengungsian sini masih memiliki giroh, semangat untuk menghafal alQuran. Sedangkan kita yang berada di Indonesia dengan penuh kenikmatan dan kenyamanan sering melalaikan bahkan mengabaikan alQuran. Kita yang memiliki banyak mushaf tapi hanya menjadikannya pajangan penghias lemari. Astagfirullohal ‘adziim.

Bocah Suriah

“InsyaAllah besok paman bawain ya ….” Janji cak Ihsan.
Keesokan harinya cak Ihsan kembali ke pengungsian membawa makanan namun qodarulloh ia lupa membawa mushaf yang ia janjikan.

Ketiga anak perempuan kecil itu ternyata tak lupa. Mereka datang dan menagih mushaf yang dijanjikan cak Ihsan.
“Maaf … paman lupa membawa mushafnya.”

Seketika mereka terisak menangis kecewa di depan cak Ihsan. Tangisan tulus karena kerinduan mereka pada alQuran. Tangisan karena keinginan mereka untuk menghafal alQuran belum kesampaian. Cak Ihsan yang merasa sangat bersalah pun ikut meneteskan air mata karena telah mengecewakan mereka.

Subhanalloh …. Pernahkah kita merasakan kekecewaan karena jauh dari alQuran? Apakah kita memiliki kerinduan mendalam pada alQuran seperti mereka? Di saat anak-anak kita merengek karena meminta mainan, mereka, anak-anak Suriah menangis karena tak bisa menghafal alQuran. Betapa bidadari-bidadari kecil tak berdosa itu telah memperlihatkan cahaya iman yang sesungguhnya.

Kiranya ini adalah salah satu bukti akan kebenaran sabda Rosululloh yang mengabarkan bahwa cahaya iman akan memancar dari Syam saat fitnah berkecamuk.

Keesokan harinya cak Ihsan benar-benar membawa mushaf sebanyak yang ada untuk dibagikan kepada anak-anak Suriah. Dan ketiga anak perempuan itu benar-benar kembali datang menagih. Semangat untuk menghafal alQuran terpancar begitu jelas dari keceriaan wajah mereka saat menerima mushaf alQuran. Subhanalloh walhamdulillaah.

Cak Ihsanul Faruqi

Kisah tentang tiga bidadari Syam itu adalah satu di antara cerita-cerita penuh hikmah lain yang cak Ihsan tuturkan. Semoga Allah menjadikan anak-anak kita, anak-anak muslim Indonesia, juga memiliki keimanan dan semangat mendalam untuk memuliakan agama Islam yang haq ini.

Jazakallohu khoiron kita ucapkan kepada cak Ihsanul Alfaruqi yang telah melaporkan pengalamannya melewati empat musim selama kurang lebih setahun di Suriah. Semoga semua cerita-cerita itu mampu menggugah keimanan dan kepedulian kita kepada saudara muslim lain, khususnya di Suriah, di bumi Syam yang diberkahi oleh Allah ta’ala.

Tak lupa pula kita ucapkan jazakumullohu khoiron kepada semua panitia dan segenap pendukung (Coin4Syam, MAG dan BW) serta semua hadirin yang bahu membahu dan tolong menolong mewujudkan acara ini. Alhamdulillah donasi dari semua pihak terkumpul sebesar kurang lebih 110 juta rupiah dalam bentuk IDR, USD dan SAR. Semoga Allah membalas kebaikan kita semua dengan yang lebih baik, aamiin ….

MMS7 MMS6 Donasi MMS

Barokallohu fii amwaalikum wa ahlikum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *