TAR Dalam Cerita (2): Antara Carrier & Persahabatan

Sekitar pukul 1 dini hari, kami tiba di area Rindu Alam. Semua peserta yang terlelap dibangunkan dan dengan sigap turun bergantian membawa carrier dan berbaris di depan sebuah pos penjagaan masuk perkebunan teh. Kantuk ane benar-benar langsung menguap tanpa bekas. Entah karena udara dingin yang mulai menggigit atau karena rasa penasaran yang masih menggelayut.

Tiba di Rindu Alam

Sekapur sirih disampaikan oleh kang Auliya menjelaskan perihal operasi yang akan dilaksanakan lalu dilanjutkan kang Maul dan Abah Syarif dari kesiswaan. Suasana berubah hening ketika kang Panji selaku Tatib angkat bicara. Dengan suara lantang dan tegas beliau menjelaskan, “Kita adalah saudara, tapi selama TAR kami adalah Pelatih dan kalian adalah siswa.” Kalimat yang dengan tegas ingin menjelaskan bahwa ini adalah pendidikan bukan temu kangen. Ini adalah kawah candradimuka di mana fisik dan mental akan ditempa, dan kami harus siap akan hal itu.

Kami pun kemudian memulai perjalanan dengan menyusuri kaki bukit di sela-sela kebun teh. Setiap kelompok didampingi oleh satu atau dua pelatih. Ternyata dengan beban carrier bermuatan penuh sekitar 15-20 kilogram berjalan di setapak berbatu lumayan berat. Perlu kehati-hatian dan konsentrasi untuk menjaga agar tidak selip atau tergelincir. Beruntung di masa kecil ane terlatih main engrang, jadi berjalan bisa seimbang. Apa hubungannyaaa???

Copy of DSCN2558 Copy of DSCN2562 Copy of DSCN2560

Selain pelatih, ternyata ada seorang dokter ganteng yang mendampingi long march kami. Tidak hanya membawa obat-obatan P3K, tapi dokter Rizki, begitu kami memanggilnya, juga membawa kru kameramen. Jadi selain sebagai dokter doi juga merangkap tim dokumentasi. Ko Fajar, daeng Subhan, dan beberapa peserta lainnya ternyata benar-benar membutuhkan service doi dalam long march ini. Perawatan dan pemberian obat terpaksa dilakukan.

Ane sendiri hanya sekilas berkonsultasi mengeluhkan kondisi lutut ane yang terasa ngilu saat turunan. Teringat pekan sebelumnya ane gocekan futsal bersama teman-teman kantor dan mencetak beberapa gol. Sepertinya gol-gol indah itu menyisakan kenangan. Lutut ngilu. Dan yang lebih menyakitkan, ngilu lutut itu gak bisa diapa-apain saat itu. “Derita loe… sabar aja!” Kurang lebih itu kesimpulan yang ane buat dari penjelasannya. Huaaaa…

Dalam long march menembus gelapnya malam yang dingin di perkebunan teh ini, kami tidak hanya berjalan, melainkan sesekali kami terpaksa berlari kecil susul menyusul kelompok sesuai instruksi pelatih yang kadang berteriak tegas memberi semangat. Teriakan yang kadang berubah seperti pecut memaksa mereka yang tertinggal untuk menyusul kelompoknya. Sapaan pelatih “Ahlan ikhwan” yang dibalas serempak “PM siap!” oleh seluruh peserta di sepanjang perjalanan ibarat alunan akapela yang memecah kesunyian malam. Tombo ngantuk.

Di sebuah gedung sekolah dasar yang gelap gulita kami semua berhenti istirahat. Tas carrier yang sedari tadi nangkring di punggung akhirnya bisa bisa diturunkan dengan izin pelatih. Ya… harus dengan izin pelatih. Sedari awal, di sepanjang perjalanan tadi, kami dilarang menurunkan tas atau bahkan untuk duduk sekalipun. Kami hanya diperbolehkan berhenti dan membungkuk rukuk untuk sekadar memindah beban dan membiarkan darah mengalir lancar di pundak-pundak kami. Pundak yang biasanya dipijat lembut oleh istri kini harus menerima gigitan tas carrier yang semakin lama terasa semakin dalam. Hmmm… namanya juga tes fisik.

Sambil beristirahat, kang Aulia memberikan review long march kami yang katanya baru setengah perjalanan menuju tujuan kami, Rawa Gede. Di situ ane baru tahu kalau daeng Subhan dari kelompok tiga terpaksa dievakuasi ke mobil ambulans karena terkilir dan mengalami cedera engkel. Sambil menunggu, beberapa kali kang Aulia menawarkan ke seluruh peserta, apakah kami akan melanjutkan perjalanan dan meninggalkan yang cedera ataukah kami menunggu dan melanjutkan perjalanan bersama. Tentu saja serempak dan lantang seluruh peserta menjawab, “Menunggu!!!”

Copy of DSCN2563

Copy of IMG_9378

Copy of DSCN2565

Setelah semua telah berkumpul dan lelah berangsur pergi, kami melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri jalan setapak berbatu hingga total kurang lebih 7 kilometer. Sungguh ini ujian pertama bagi khalifah kecil ini. Di mana kami harus belajar toleransi, belajar memahami, saling memapah, saling berbagi beban, hingga bersama mencapai Rawa Gede sesaat sebelum fajar kadzib.

Kami mengerti arti pertemanan.
Takkan ada pengingkaran.
Kami paham arti persahabatan.
Takkan ada penghianatan

Terlebih

Kami bukan hanya teman.
Yang hanya ada dalam kegembiraan.
Kami bukan hanya sahabat.
Yang hanya karena martabat.

Tapi

Kami adalah saudara lahir bathin.
Dalam suka dan prihatin.
Persaudaraan yang tak pandang kerabat.
Persaudaraan yang bermanfaat dunia akhirat.

InsyaAllah…

(Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *