TAR Dalam Cerita (1): Hari Bersejarah

TAR

Sob… hari Kamis tahun lalu, pas tanggal 24 Desember adalah hari yang ane nanti-nanti sekaligus hari yang mendebarkan. Gimana tidak, hari itu adalah hari di mana ane sebagai calon anggota Petualang Muslim akan mulai menjalani pendidikan selama kurang lebih 3 hari 3 malam di atas gunung. Padahal seumur-umur ane kagak pernah tuh yang namanya ikut mendaki. Paling banter ane ikutan kemping bareng teman atau keluarga di tempat perkemahan. Itu pun ane sudah berasa menjadi cowok sejati nan macho karena telah berhasil hidup di alam bebas keluar dari zona nyaman rumah yang penuh fasilitas. Hehe…

Nah ini mendaki…? Tidak pernah sedikitpun terbayang dibenak ane tuk ikut-ikutan berpayah-payah memanjat gunung. Karena kesan yang ane dapat dari kebanyakan pendaki, mereka itu berhari-hari naik gunung yang bisa dipastikan kebanyakan dari mereka kagak mandi. Kagak usah dibahas lagi bagaimana aroma badan mereka. Pernah mencium aroma cucian yang direndam selama 3 hari kan? Uppss…

Begitu sampai di puncak gunung, mereka hanya ambil gambar selfie lengkap dengan kertas bertuliskan “Gunung Bla-Bla sekian MDPL.” Kalau pendakinya abege, kadang ditambahi embel-embel kata-kata cinta lebay yang sok romantis melankolis harmonis oportunis. Sungguh kronis!

Kemudian setelah lelah pepotoan dari segala penjuru dan berbagai angle di puncak, mereka pun turun gunung. Terus di mana nikmatnya? Hanya untuk pepotoan doang? Apa manfaatnya? Makanya ane katakan tak sedikitpun terbersit keinginan ane tuk mendaki gunung sebelumnya.

Tapi ternyata takdir berkata lain. Petualang Muslim, komunitas ikhwan ahlussunnah pecinta alam, dengan jargonnya “Sahabat Alam Peduli Sesama” telah merubah persepsi saya. Mereka menawarkan ilmu hidup di alam bebas berupa navigasi darat, survival, SAR (Search And Rescue) dan lain-lain yang diracik dalam acara TAR, Tarbiyah Alam Rimba. Ini adalah ilmu yang tidak hanya kekinian, tapi ini adalah ilmu yang penting dimiliki oleh setiap lelaki yang tahu bahwa dia takkan selamanya berdiam di rumah. Ada saat di mana dia harus berpeluh keringat dan bertahan hidup di alam liar. Mungkin suatu saat, ketika takdir memanggil.

Nah inilah yang sangat menarik menurut ane. Karena kegiatan mendaki gunung yang akan dilakukan tidak hanya sekadar haha-hihi yang gak jelas, melainkan sebagai sarana menimba ilmu sekaligus melatih mental dan fisik.

Yes! Dibalik itu, satu lagi rekor akan terpecahkan dan tercatat sebagai tonggak sejarah di mana ini akan menjadi kali pertama ane mendaki gunung dalam sejarah hidup ane. Perasaan ane gembira bercampur haru. Hiks…
*Ambil mic. “Terimakasih kepada kang Aulia selaku ketua PM, kang Zen, kang Maul, kang Panji, kang Aji, kang Arur, kang Jimmy, Abah Syarif, kang Usman dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu-persatu. That really means a lot to me…”

Sob… ketahuilah. Perasaan ane menunggu hari demi hari hingga malam pelaksanaan acara TAR ini persis kayak anak SD yang tidak sabar menunggu esok hari pertama sekolah untuk menggunakan seragam dan alat tulis baru. Semua perlengkapan mendaki yang ane siapkan pun, mulai dari sepatu, baju, celana, topi rimba hingga carrier, bisa dikatakan baru. Ya… Baru! Baru beli ataupun baru dapat dari hasil minjem. Hehe…

TAR

Hari itu pun tiba. Karena ini akan menjadi hari yang bersejarah, istri dan anak-anak ane ikut mengantar sampai ke titik kumpul masjid Darussalam Kota Wisata. Peluk dan cium mereka menjadi pecut dan semangat yang mengiringi kepergian ane. “Doakan ayah ya…!“

Di sini seluruh peserta TAR dibagi menjadi 6 kelompok. Ane sendiri kebagian kelompok 6 dengan amirnya kang Billiyan al jomblowi. Sayangnya di saat detik-detik pemberangkatan, dengan berat hati kang Billi ngabarin kalo dia batal memimpin rombongan kami lantaran tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Ya… apa mau dikata. Ridho Allah ta’ala beserta ridho orang tua. Berbakti dan mentaati orang tua tentu beribu-ribu kali lebih baik daripada mendaki bersama kami. InsyaAllah lain kali sob…

Ane langsung teringat mamak di Makassar. Walau sepekan sebelumnya ane sudah memberi tahu mamak tentang TAR ini, ane kembali menelpon dan mengabarkan kalau malam itu akan segera berangkat mendaki gunung. Alhamdulillah restu dan doa mamak di ujung telpon sana menjadi penambah semangat baru ane.

Dengan mundurnya kang Billi, praktis anggota kelompok 6 tinggal 6 orang. Pak Puji, kang Angga, aa Daly, Ko Fajar, Lutfi dan ane sendiri. Musyawarah kilat kemudian memutuskan untuk mengangkat Lutfi sebagai amir baru kelompok 6 menggantikan kang Billy. Selain karena dia sudah pengalaman beberapa kali mendaki, dia juga memiliki titel yang sama dengan kang Billi. Aljomblowi. Hehe…

 

TAR 1

Panitia yang dipimpin oleh kang Aulia, berbaris rapi di depan masjid. Seluruh peserta pun diminta berbaris per kelompok untuk kemudian didata dan cek kelengkapan.
“Ahlah ikhwan…!”
“PM Siap!!!”

Satu persatu peserta TAR berbaris mengular bergantian masuk bis yang sudah menunggu di pelataran masjid. Ane memaksa mata tuk terpejam saat bis meninggalkan masjid Darussalam. Ane berharap mimpi indah malam itu.

(Bersambung)

TAR2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *