Secuil Cerita TAR 2 2016 Petualang Muslim

Di penghujung tahun 2016 masehi, tanggal 29 Desember hingga 1 Januari 2017 Petualang Muslim menyelenggarakan Tarbiyah Alam Rimba (TAR) kedua guna mendidik, melatih sekaligus menyaring calon anggota baru. Perhelatan akbar tahunan ini diikuti oleh 78 siswa Calon Petualang Muslim (CPM) yang dibagi menjadi sembilan kelompok. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang, bermacam-macam usia dan datang dari berbagai daerah yang sebagian besar adalah santri Pondok Pesantren Madinatul Quran.

Kang Rio Yenhario bertindak selaku ketua TAR sedangkan kang Auliya Abu Suja berperan sebagai komandan lapangan. Di belakang mereka berdiri lelaki-lelaki tangguh yang memegang posisi strategis sebagai Pelatih, Kesiswaan, Tartib, Logistik, Survey & Advance, Administrasi & Wisuda, Medis dan Dokumentasi. Dan yang teristimewa adalah kegiatan TAR ini dikawal langsung oleh ustadz Ahmad Daniel, Lc. yang jauh-jauh datang dari tanah Minang.

 

Selepas shalat ashar seluruh CPM beserta 32 orang panitia meninggalkan tikum masjid Darussalam Kota Wisata dengan menggunakan dua bis dan beberapa mobil lain. Petualangan kami dimulai dengan melakukan long-march dari kawasan wisata Agro Gunung Mas, berjalan mengular ditemani rintik hujan melalui jalan Raya Puncak melewati masjid Taawun menuju post pertama di Pos kebun teh Cikoneng. Di pos ini semua berhenti untuk istirahat dan melakukan shalat jamak takhir Maghrib dan Isya yang diimami oleh ustadz Faudzan dari Madinatul Quran.

 

Tepat pukul 10 malam, peserta melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki memasuki perkebunan teh dengan jalan jauh berkelok-kelok, berbatu yang kadang landai, kadang turun dan naik hingga akhirnya kami semua sampai di SD Cikoneng. Dengan wajah kelelahan dan tampak mengantuk semua peserta melepas malam yang dingin dengan tidur di selasar kelas.

Setelah shalat shubuh dan olahraga pagi dipandu kang Tono, CPM mendapatkan materi Navigasi Darat menyisir perkebunan the. Mereka kemudian diharuskan mencari jalan melalui punggungan gunung Luhur melewati titik ketinggian 1702. Seusai istirahat ringan, penjelajahan berlanjut menuju puncak tertinggi Gunung Luhur di mana panitia mengabadikan gambar semua CPM secara berkelompok.

 

 

Walau tampak kelelahan seluruh peserta masih bersemangat melanjutkan pengembaraan. Kompak menuruni gunung Luhur lalu kemudian mendaki menuju gunung Kencana. Menjelang pukul satu siang, alhamdulillah seluruh peserta berhasil mencapai dan beristiratahat di sadelan gunung Kencana. Perjalanan hari kedua ini tentunya sangat menguras energy CPM maupun panitia di mana kami semua berhasil menjajah dua gunung dalam sehari. Yes!

Di sadelan ini, CPM dibekali ilmu rappelling, menuruni lembah terjal gunung Kencana dengan menggunakan harness dari tali webing yang harus mereka buat sendiri. Selain itu CPM juga diajarkan cara membuat bivak alam. Secara kelompok mereka diharuskan bekerjasama membuat bivak dari batang, ranting dan daun-daun pepohonan hutan sebagai rumah dan permadani alam mereka karena di situlah mereka harus tidur di malam kedua.

 

Jam 10 malam, saat binatang siang telah terlelap, berganti hewan malam mencari mangsa, seluruh panitia bergerak senyap menuju bivak alam masing-masing kelompok dan membangunkan seluruh CPM. Panitia pelatih mengabarkan bahwa malam ini mereka harus belajar tidur kalong, tidur di atas pohon dengan bekal tali webing sebagai salah satu cara survival menghindari binatang buas. Sekalipun semua CPM masih terlihat letih dan ngantuk, setiap mereka dengan sadar dan penuh komitmen mengikuti instruksi pelatih untuk memanjat pohon yang dipilihkan. Mereka diinstruksikan untuk nongkrong di atas batang pohon dan berusaha tidur dalam gelap gulita malam tanpa sedikitpun penerangan. Hingga menjelang sepertiga malam sekitar pukul dua dini hari, seluruh panitia kembali bergerilya membangunkan CPM di atas pohon dan menyuruh mereka kembali ke bivak alam masing-masing. Sungguh pengalaman yang tak akan mereka lupakan, insyaAllah.

 

Keesokan harinya, pekik “Ahlan ikhwan!” dari panitia membangunkan seluruh CPM lalu disambut terikan “PM Siap!” oleh mereka. Seluruhnya berkumpul bergegas melaksanakan shalat shubuh berjamaah dengan khusyuk sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat yang dibacakan oleh ustadz Daniel. Selepas itu beliau memberikan nasehat Shubuh sebagai siraman rohani sekaligus memompa semangat dan mental kami.

 

Dinginnya embun dan kabut yang tersisa di waktu Shubuh tak lagi terasa menusuk tulang saat seluruh CPM bersama panitia mengikuti olahraga pagi. Suara lantang hitungan gerakan seluruh peserta mengisi dan menggema di seluruh penjuru gunung Kencana.
Setelah olahraga, CPM diharuskan berlomba lari menuju puncak gunung Kencana untuk memperebutkan nomor keanggotaan Petualang Muslim. Yang lebih dulu mencapai puncak akan mendapatkan nomor anggota yang paling kecil kemudian diikuti oleh peserta yang tiba selanjutnya. Alhamdulillah seluruh CPM berhasil menyelesaikan lomba lari menuju puncak walau tim medis akhirnya terpaksa turun tangan untuk memberikan perawatan pada tiga CPM yang mengalami kelelahan.

 

Setelah mengikuti seremoni pemberian nomor anggota PM secara simbolis di puncak gunung Kencana, CPM kembali turun ke sadelan untuk sarapan. Sesudah itu mereka diharuskan ‘berpuasa’ hingga maghrib. Semua makanan CPM yang tersisa dikumpulkan, disegel oleh panitia, dan dikembalikan kepada masing-masing CPM. Seharian mereka hanya diperkenankan untuk minum dan tidak diperbolehkan makan apapun kecuali tanam-tanaman hutan yang mereka temui di hutan. Untuk itu komandan lapangan memberikan materi survival perihal makanan dan minuman alam yang aman dikonsumsi selama di hutan.

 

Materi selanjutnya yang diberikan kepada CPM adalah praktek Packing-Management, bagaimana merencanakan barang-barang bawaan dan menyusunnya dalam tas keril (carrier). Setelah itu dilanjutkan dengan materi praktek Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang biasa dikenal dengan P3K. Setiap kelompok diberikan tiga kasus gawat darurat dan diharuskan melakukan tindakan pertolongan pertama untuk kemudian akan dinilai oleh panitia. Alhamdulillah seluruh CPM tampak antusias mengikuti materi yang diberikan.

 

Selesai shalat jamak takdim dzuhur dan ashar seluruh peserta bergerak melanjutkan perjalanan menuruni gunung Kencana menuju Rawagede. Menyusuri turunan tajam jalan setapak yang membelah hutan ternyata lebih menyita energy seluruh CPM , apalagi mereka dalam kondisi ‘puasa’. Jalan mulai melambat dan tertatih-tatih. Beberapa CPM bahkan mengalami cedera angkle dan lutut hingga mendapatkan perawatan tim medis. Alhamdulillah sebelum maghrib menjelang kami semua berhasil mencapai Rawagede.

Di Rawa gede, semua CPM diperintahkan untuk membuat bivak individu dari jas hujan ponco yang mereka bawa. Adapun untuk santap malam, panitia meminta setiap kelompok untuk membuat ‘makan besar’ untuk berbuka ‘puasa’ mereka hari ini. Panitia bertindak sebagai quality-control atau tukang icip-icip sekadar memberikan penilaian manakah kelompok yang dapat menyajikan menu terbaik ditengah keterbatasan kondisi mereka. Suasana senang dan puas seluruh peserta menutup malam ketiga sambil istirahat sebelum memasuki etape hari terakhir.

 

Tidur terasa begitu nyenyak dan pulas hingga adzan subuh berkumandang membangunkan seluruh peserta. Olahraga kembali membuka hari ke empat petualangan kami untuk melemaskan otot-otot yang kaku dan melancarkan peredaran darah. Selepas itu CPM mendapatkan materi terakhir, yaitu penyebrangan basah. Setiap CPM diharuskan menyebrangi danau Rawagede sejauh kurang lebih 100 meter dengan menggunakan seutas tali dan sebuah pelampung sebagai pengaman. Dua anggota kehormatan, dokter Rizki dan Mang Ape, tidak mau ketinggalan tuk mencicipi materi terakhir ini. Alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai rencana.

 

Akhirnya long-march sejauh kurang lebih 30 kilometer menjadi etape terakhir petualangan kami di TAR 2. Kang Auliya memberikan gambaran tentang panjangnya long-march yang akan dilalui sekaligus membakar semangat semua CPM. Setiap awal pasti ada akhir, itulah pesan tegas beliau yang disambut dengan pekik “PM Siap!”

Berbekal baju basah dan sunblock lumpur Rawagede di seluruh tubuh, semua CPM melangkah mantap memulai long-march menuju garis finish, Pondok Pesantren Madinatul Quran. Sungguh long-march terakhir dari Rawagede melalui gunung Hideung hingga ke Madinatul Quran menjadi klimaks yang sempurna untuk sebuah ekspedisi sekaligus menjadi kawah candradimuka bagi semua CPM maupun panitia. Perjalanan yang sangat panjang dan terasa tak berujung sungguh menempa moral dan mental kami semua.

 

Perjalanan yang sekiranya finish di sore hari tapi ternyata tertunda hingga tengah malam, cukuplah mengungkapkan seberapa berat perjalanan yang dilalui. Namun berkat kesungguhan, kesabaran, ketabahan, kekompakan serta persaudaraan yang solid, kami semua akhirnya berhasil menginjakkan kaki di garis finish dengan bangga.

 

Reportase singkat ini sungguh tidaklah dapat menggambarkan seluruh pengalaman luar biasa yang kami lalui bersama. Banyak cerita indah, keseruan, suka dan duka behind-the-scene yang tak mampu dituliskan.

Tentang cerita si Kutar (Kucing TAR2) yang ngekor dari gunung Kencana hingga ke garis finish, MQ2.
Tentang cerita pak Mis yang tak muda lagi namun pantang menyerah mengikuti seluruh rangkaian acara TAR.
Tentang cerita heroik kang Masruri yang terpaksa menggendong CPM yang cedera saat long-march.
Tentang lengkingan malam dan suara tilawah syahdu di gunung Hideung yang terkenal angker.
Tentang tarian Cing-Coy dan masih banyak cerita lainnya.

Alhamdulillah semua berakhir indah dan menjadi sejarah hidup yang mungkin tak terlupakan.

Ahlan Ikhwan!
PM Siap!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *